Text 23 Oct 3 notes Jawanan

Disadur dari sokabuma.wordpress.com

Jawanan
Jawanan dalam Bahasa Persia berarti pemuda. Persia yang kita kenal sekarang menjadi negeri Republik Islam Iran dengan diawali revolusi yang dipelopori oleh para pemuda. Bahkan para pemuda itu terhimpun dalam Korps Pengawal Revolusi Islam (Bahasa Persia: Sepah-e Pasdaran-e Enghelab-e Islami sering disingkat Pengawal Revolusi Revolusi Islam. Para pemuda Iran inilah yang menggulingkan tirani regim Syah Iran yang telah menggiring rakyat Iran ke dalam pemisahan kehidupan dengan agama menggunakan pembudayaan westernisasi.
Reza Pahlevi yang telah mengkultuskan dirinya menjadi Syah Iran, menjalankan pemerintahan monarki yang korup yang menindas rakyat Iran dan meyakini ideologi yang menghancurkan kebudayaan Iran akibat merosotnya budi pekerti jajaran pemerintahan di bawahnya. Kemerosotan budi pekerti penguasa membawa dampak kesengsaraan di kalangan rakyat, sehingga menimbulkan tekanan-tekanan sosial yang memicu kesadaran para pemuda sebagai agen perubahan untuk memulai suatu gerakan perubahan. Gejolak sosial yang kian hari kian menghimpit pranata sosial masyarakat Muslim Iran yang telah ditumbuh-besarkan oleh Kebudayaan Islam, makin menggelorakan gelombang demonstrasi besar gerakan pemuda Iran untuk melakukan perubahan dengan cepat.
Dalam kurun waktu dari Januari 1978 dengan Demonstrasi besar pertama, dan ditutup dengan disetujuinya konstitusi teokrasi baru – dimana Khomeini menjadi Pemimpin Tertinggi negara – pada Desember 1979. Sebelumnya, Mohammad Reza pahlevi pergi meninggalkan Iran dan menjalani pengasingan pada Januari 1979 setelah pemogokan dan demonstrasi melumpuhkan negara. Pada 1 Pebruari 1979 Ayatullah Khomeini kembali ke Teheran yang disambut oleh beberapa juta Bangsa Iran.
Kejatuhan terakhir Dinasti Pahlevi segera terjadi setelah 1 Pebruari dimana Angkatan Bersenjata Iran menyatakan dirinya netral setelah gerilyawan dan pasukan pemberontak mengalahkan tentara yang loyal kepada Shah dalam pertempuran jalanan. Iran secara resmi menjadi Republik Islam pada 1 April 1979 ketika sebagian besar Bangsa Iran menyetujuinya melalui referendum nasional.
Revolusi ini memiliki keunikan tersendiri karena mengejutkan seluruh dunia. Revolusi besar ketiga dalam sejarah,” setelah Perancis dan Revolusi Bolshevik. Berbeda dengan berbagai revolusi di dunia, Revolusi Iran tidak disebabkan oleh kekalahan dalam perang, krisis moneter, pemberontakan petani, atau ketidakpuasan militer; menghasilan perubahan yang sangat besar dengan kecepatan tinggi ; mengalahkan sebuah regim, walaupun regim tersebut dilindungi oleh angkatan bersenjata yang dibiayai besar-besaran dan pasukan keamanan dan mengganti monarki kuno dengan ajaran teokrasi yang didasarkan atas Guardianship of the Islamic Jurists (atau velayat-e faqih). Hasilnya adalah sebuah Republik Islam “yang dibimbing oleh ulama berumur 80 tahun yang diasingkan ke luar negeri dari Qom,” sebagaimana seorang cendekiawan menyatakan, “jelas sebuah kejadian yang harus dijelaskan.
Revolusi ini terjadi kepada dua peringkat. Peringkat pertama bermula pada pertengahan 1977 hingga tahun 1979 yang dipimpin oleh pihak liberal, golongan haluan kiri dan kumpulan agama. Kesemua mereka memberontak menentang Shah Iran. Peringkat kedua yang turut dikenali sebagai Revolusi Islam menyaksikan naiknya Ayatollah menjadi pemimpin revolusi.
Sekarang kita menyaksikan kemajuan yang dicapai Iran telah mampu menyejajarkan diri dengan negara super power dan berdiri tegak menantangnya. Bahkan Iran mampu menguasai teknologi alutista yang mampu menandingi kekuatan musuh besarnya- Amerika Serikat. Dalam sebuah film karya Sutradara Joel Gilbert, Farewell Israel: Bush, Iran and the Revolt of Islam, Amerika Serikat digambarkan sebagai great satan yang akan menindas, memeras, mengeksploitasi bumi dan penghuninya hingga menuju kehancuran. Iranlah yang akan menjadi pelopor di antara masyarakat dunia dalam perjuangan perlawanan hitam – putih, Adam dan Iblis, Haq dan Bathil.
Pemerintahan revolusioner Iran gencar melaksanakan ekspor Revolusi ke negara sekitarnya dalam drama panjang kehidupan pertentangan antara Kebenaran melawan Kejahatan yang menjadi ketetapan dalam rangkaian sejarah kehidupan manusia.
Indonesia pada periode penyebaran agama Islam yang mulai masuk sejak abad ke-12 telah “mengimpor” dan menyerap kata-kata bahasa Arab seperti masjid, kalbu, kitab, kursi, selamat, dan kertas, serta kata-kata Persia seperti anggur, cambuk, dewan, saudagar, tamasya, dan tembakau masuk pada periode ini. Proses penyerapan dari bahasa Arab dan Persia terus berlangsung hingga sekarang.
Dalam memperingati Kongres Pemuda 1928, para Jawanan di Indonesia semestinya membuka keran impor seluas-luasnya terhadap komoditi ekspor Iran agar mereka menjadi pelopor perubahan atas keadaan di negerinya yang makin hari makin terpuruk dalam jurang yang memprihatinkan.

 Gua Hira, 30 Oktober 2010.

Quote 20 Oct 12 notes
I may never find all the answer, I may never understand why, I may never prove what I know to be true, but I know that I still have to try
— Tuhan bersama orang yang pemberani
Link 17 Oct (Runtuhnya Simbol Supremasi Hukum RI) Lantas, adakah yang bisa saya banggakan dari negeri ini?»
Text 17 Oct 2 notes Sampai Kapan?

 Jiwamu telah lama bermukim di lembah jemu

Tak pernah puas melahap waktu,

menjilat pusar halus dan leher jenjang mereka

melelehkan emas untuk kau keringkan di dalam dompet sempitmu?

Sampai kapan mau seperti ini?

Sampai kapan kau rela televisi menjadi kiblat putihmu?

merongrong anak istrimu sampai wajahmu pun jadi kotak karenanya

Oh, ataukah kau lebih memilih tak peduli?

Sampai nanti hutan dan perut bumi habis karena keserakahan kekawanmu itu?

Sampai hartamu habis karena udara dijual terlalu mahal?

Ataukah sampai anakmu nanti meringkih ampun karena Sang Maha Murka telah habis sabarnya?

Hidup ini bukanlah perjudian, nona

Terlalu mahal untuk kau jual begitu murah

Birunya laut terlalu dalam untuk kau ukur dengan dangkal otakmu itu

Sekarang dengarkanlah aku, tuan

Kau hanya perlu mengikuti keinginan Sang Maha Murka

angkuhmu tak akan mampu meredam hitamnya api nanti

Mari sama sama kita mendaki makna

Makna nafas yang terurai dari jantungnya

Makna mentari yang hilang dari embun paginya

Makna kenangan yang tumpul dari nostalgianya

dan makna hidup yang luput dari tujuannya

Hidup tak melulu soal cinta kan?

Quote 16 Oct 2 notes
People are afraid of themselves, of their own reality; their feelings most of all. People talk about how great love is, but that’s bullshit. Love hurts. Feelings are disturbing. People are taught that pain is evil and dangerous. How can they deal with love if they’re afraid to feel? Pain is meant to wake us up. People try to hide their pain. But they’re wrong. Pain is something to carry, like a radio. You feel your strength in the experience of pain. It’s all in how you carry it. That’s what matters. Pain is a feeling. Your feelings are a part of you. Your own reality. If you feel ashamed of them, and hide them, you’re letting society destroy your reality. You should stand up for your right to feel your pain.
— Jim Morrison
Text 21 Jul Si Penjelajah Fana (5)

(5)

Jiwamu bermukim dalam jeda rahasia antara kata dan kata
Selengang kerlipan ruang  antara bintang dan bintang

Kehadiranmu ringan dan kokoh laksana selembar bulu gunung
Bertiup dari keluasan ke keluasan sayup

Seluruh jalan berkayuh menuju jalanmu
Yang keemasan dan biru, bak bentangan gelombang Jalan Langit

Di kota ini kau membangunkan hari kedua
Dari tenunan benang ganda: kehidupan dan kematian

Mungkin kota ini hanya muncul sekejapan dari rimbunan kabut
Sebelum kefanaan jatuh bagaikan malam yang jatuh.

Text 21 Jul Si Penjelajah Fana (4)

(4)

Kesendirian yang bening dan megah
Telah tegak di sini sejak  permulaan kala

Seluruh kenangan berpendar bagai lampion-lampion malam
Engkau hanya memandangnya, tanpa tersentuh olehnya.

Ayunan air di antara pepohonan, halus dan hening,
Seperti melodi gerakan tangan dan kaki seorang bayi

Bak puisi yang kau rangkai dari batas-batas bahasa
Atas bawah, bolak balik, hingga membungkus seantero kota

Maka kota menjelma doa yang mekar
Merambati pohon awan

Text 21 Jul Si Penjelajah Fana (3)

(3)

Telah Kau sebrangi jembatan yang melanglang jauh

Melengkung dari dirimu menuju dirimu

 

Kini kau tinggal di sebuah kota yang sepi senyap

Di mana banyaknya pasir yang kau genggam sebanyak pasir yang hambur

 

Bagaikan kapal yang semakin jauh dari tempat berlabuhnya

 

Lubang yang kau dulu jatuh di situ,

kembali kau gali untuk tempat persemayaman renunganmu

 

Ibarat matahari yang silau akan cahayanya sendiri

 

Tak terdengar suara sepikuk kecilpun

Selain nyanyian lampau yang tumbuh pada kerajaan mas kecilmu

 

Kau menerobos masuk menatap cahaya matahari

Hingga pandanganmu merona, membakar memenuhi seluruh ruang tatap

 

 

Di kota ini kau aman dan tersembunyi dari dirimu sendiri

Seperti seekor rajawali yang tak terbang di cakrawala,

Tak juga berlindung dari sapuan senja

Text 21 Jul Si Penjelajah Fana (2)

(2)

Kau rebahkan dirimu kedalam kubangan air hayat yang berombak

Menimbulkan lingkaran-lingkaran riak kehadiran yang tak terbatas

Berpotongan dan bersilangan melahirkan aneka ciptaan baru

 

Bila lingkaran-lingkaran itu diperbesar, ia akan seluas jagat raya

Bila lingkaran-lingkaran itu diperkecil, ia akan menjadi inti dirimu

 

Maka teluk yang menganga dalam rongga sajak-sajakmu

Menampung ledakan makna segala pengalaman dunia—

 

Bak seberkas bara air yang menyamudra 

Text 21 Jul Si Penjelajah Fana (1)

(1)

Selalu kau bandingkan gang gang sempit di sudut jalan

Dengan rambat waris para penerima nasib.

 

 

Engkaulah burung yang berakhir

Jauh dari rindang sarang dan kelepak sayap langit.

 

 

Dengan cempor Mahasagala kau mencari-cari makna

Puluhan destinasi menelusuri cakrawala kota, hutan, dan goa.

 

 

Yang kau temukan cuma sajak-sajak semata wayang,

Rangka jung tua yang terdampar, dan guci retak dari si penjelajah fana.

 

 

karena jenuh dengan seluruh jalan, akhirnya kau berhenti

dan menjelma menjadi hiruk jalan itu sendiri.


Design crafted by Prashanth Kamalakanthan. Powered by Tumblr.