Text 23 May 6 notes

Selamat datang di masa depan
Pastikan kau sudah memiliki account paypal

Tuhan- Tuhan Baru

Bisa hidup tanpa fikir
Tak bisa hidup tanpa pulsa

Tuhan- Tuhan Baru

Tenang jika update
Kasut kalau habis batre

Tuhan- Tuhan Baru

Kau agungkan perbedaan
Kau laknat kerudung panjang

Tuhan- Tuhan Baru

Jenggot biar kaya Nabi
Beda aliran jenggotmu terbakar

Tuhan- Tuhan Baru

Kelestarian alam itu wajib
Sembah pencipta alam itu lucu

Tuhan- Tuhan baru

Mata kuliah bicara esensi
esensi hidup gak perlu tau

Tuhan- Tuhan baru

Makan kenyang saku penuh
Bawah perut puas

Tuhan- Tuhan Baru

Muda foya- foya
Tua kaya raya
Mati masuk surga

Tuhan- Tuhan Mimpi.

Text 4 May 5 notes Seven Fallacy

Menurut Jalaluddin Rakhmat ada tujuh kesalahan berfikir:

1. Fallacy of Dramatic Instance

Fallacy of dramatic instance berawal dari kecendrungan orang untuk melakukan apa yang dikenal dengan over-generalisation. Yaitu, penggunaan satu dua kasus untuk mendukung argumen yang bersifat general atau umum. Kerancuan berfikir semacam ini banyak terjadi dalam berbagai telaah social. Argument yang overgeneralized ini biasanya agak sulit dipatahkan. Karena, satu-dua kasus rujukan itu seringkali diambil dari pengalaman pribadi seseorang (individual’s personal experience). Contoh supaya lebih memudahkan kita memahami Fallacy of dramatic instance ini:

Joni adalah mahasiswa UGM

Dedi adalah mahasiswa UGM

Joni berperangai jelek

Jadi, dedi juga berperangai jelek

(karena keduanya mahasiswa UGM)

Kadang-kadang, overgeneralisasi terjadi dalam pemikiran kita saat memandang seseorang, sesuatu, atau tempat. Padahal, orang itu selalu berubah, sehingga hal yang sama tidak bisa kita terapkan pada orang yang sama terus menerus dan selamanya.

2. Fallacy of Retrospective Determinism

Istilah yang panjang ini sebetulnya hanya untuk menjelaskan kebiasaan orang yang menganggap masalah sosial yang sekarang terjadi sebagai sesuatu yang secara historis memang selalu ada, tidak bisa dihindari, dan merupakan akibat dari sejarah yang cukup panjang. Determinism selalu saja lebih memperhitungkan masa silam ketimbang masa mendatang.

Misalnya, ada sesuatu masalah sosial yang bernama pelacuran alias prostitusi. Sebagian orang mengatakan: “ mengapa pelacuran itu harus dilarang? Sepanjang sejarah pelacuran itu ada dan tidak bisa dibasmi. Oleh karena itu, yang harus kita lakukan bukan menghilangkan pelacuran, melainkan melokalisasikannya agar terhindar dari dampak-dampak yang tidak diinginkan. Karena, sekali lagi, pelacuran itu sudah ada sepanjang sejarah.”

Dengan demikian, cara berfikir ini selalu mengambil acuan “kembali ke belakang” atau “sistem”. Karena itu, kesalahan berfikir ini disebut restrospective (melihat kebelakang). Determinisme restrospektif adalah upaya kembali pada sesuatu yang seakan-akan sudah ditentukan (determined) di dalam sejarah yang telah lalu.

Contoh lainnya adalah perkara kemiskinan. Orang yang berpendirian seperti di atas, akan mengatakan bahwa kemiskinan sudah ada sepanjang sejarah. Dari dulu ada orang kaya dan miskin. Mengapa orang sekarang mesti rebut-ribut memeberantas kemiskinan. Padahal, kemiskinan tidak bisa diberantas, sudah ada sejak jaman dahulu . ini juga termasuk kesalahan berfikir Karena selalu melihat kebelakang.

3. Post Hoc Ergo Prropter Hoc

Istilah ini berasal dari bahasa latin: post artinya sesudah; hoc artinya demikian; ergo artinya karena itu; propter artinya disebabkan; dan hoc artinya demikian. Singkatnya: sesudah itu-karena itu-oleh sebab itu. Jadi, apabila ada peristiwa yang terjadi dalam urutan temporal, maka kita menyatakan bahwa yang pertama adalah sebab dari yang kedua. Misalnya si X datang sesudah Y . maka X dianggap sebagai sebab dan Y sebagai akibat. Alasannya apa? Karena, urut-urutan waktunya begitu. Misalkan ada orangtua yang lebih mencintai seorang anak dibandingkan anak yang lain hanya karena orangtua itu kebetulan naik pangkat atau ekonominya menjadi menjadi lebih stabil setelah memperoleh anak kesayangannya itu. Dulu, ketika zaman anak pertama, orangtua ini sengsara. Maklum, kehidupan berkembang. Tapi, malangnya, yang kena getah malah anak pertama. Orangtua itu berkata: “ ini anak membawa sial. Dulu, zaman anak ini saya sengsara. Nah, anak saya yang terakhir ini  yang membawa keberuntungan.” Lagi-lagi, itu adalah contoh post hoc ergo propter hoc.

4. Fallacy of Misplaced Concretness

Misplaced berarti salah telak. Concretness artinya kekonkretan. Jadi, kesalahan berfikir ini muncul karena kita mengkonkretkan sesuatu yang pada  hakikatnya abstrak. Misalnya, mengapa orang Islam secara ekonomi dan politik lemah? Mengapa kita tidak bisa menjalankan syariat Islam dengan baik? Lalu ada orang menjawab : “kita hancur karena kita berada pada satu sistim jahiliyah. Kita hancur karena ada thagut yang berkuasa.” Tetapi, sistem jahiliyah dan thagut itu adalah dua hal yang abstrak. Sehingga jika jawabannya  seperti itu, lalu apa yang bisa kita lakukan? Kita harus mengubah sistem! Tetapi, “siapa” system itu? Sistem yang abstrak itu kita pandang sebagai sesuatu yang konkret.

Dalam istilah logika, kesalahan seperti di atas itu disebut reification. Yaitu, menganggap real sesuatu yang sebetulnya hanya berada dalam pikiran kita.

5. Argumentum ad Verecundiam

Berargumen dengan menggunakan otoritas, walaupun otoritas itu tidak relevan atau ambigu. Kata-kata di atas memang abstrak semua: otoritas;relevan; dan ambigu. Otoritas itu sesuatu atau seseorang yang sudah diterima  kebenarannya secara mutlak, seperti Al-Qur’an dan Rasulullah Saw.

Ada orang yang menggunakan otoritas untuk membela paham dan kepentingannya sendiri. Dengan mengutip suatu peristiwa dalam sirah (perjalanan) Nabi, dia bermaksud membenarkan paham dan kepentingannya sendiri. Padahal, peristiwa yang dikutipnya itu belum tentu relevan dengan maslah atau tema yang sedang dibincangkan.

6. Fallacy of Composition

Fallacy of Composition adalah dugaan bahwa terapi yang berhasil untuk satu orang pasti juga berhasil untuk semua orang.

Sebagai contoh, di suatu kampung ada yang memelihara ayam. Ayam petelur negeri itu berhasil mendatangkan uang banyak bagi pemiliknya. Melihat itu, dengan serta-merta penduduk kampung menjual sawahnya untuk dijadikan modal bisnis ayam petelur. Akibatnya, semua penduduk kampung itu bangkrut lantaran merosotnya permintaan dan membanjirnya pasokan barang.

7. Circular Reasoning

Circual reasoning artinya pemikiran yang berputar-putar; menggunakan konklusi (kesimpulan) untuk mendukung asumsi yang digunakan lagi untuk menuju konklusi semula. Misalnya, terjadi perdebatan tentang rendahnya prestasi intelektual umat Islam di Indonesia. Orang pertama membuktikan konklusi tersebut dengan membandingkan presentase mahasiswa Islam dan non-Islam pada program S2 dan S3. hasilnya, makin tinggi tingkat pendidikan, maka makin menurun trend kehadiran orang Islam di dalamnya. Padahal, di tingkat sekolah dasar, presentase siswa Muslim adala 95 %. Kesimpulanya, umat Islam di Indonesia menduduki posisi intelektual yang rendah.

Lalu, orang kedua menyatakan bahwa hal ini terjadi lantaran orang-orang Islam diperlakukan tidak sederajat dengan orang-orang non-Islam. Jadi, ada perlakuan diskriminatif terhadap orang-orang Islam. Sampai-sampai, orang-orang Islam sering dicoret dari program-program pendidikan tinggi.

Orang pertama menjawab lagi, “Ya, orang Islam itu dicoret karena orang meragukan kemampuan intelektualnya.” Dengan jawaban ini, kita kembali pada pokok masalah. Akhirnya, perdebatan it terus-menerus berputar di sekitar itu. Inilah yang disebut circual reasoning.

Daftar Pustaka : Jalaluddin Rakhmat, Rekayasa Sosial, Bandung: Remaja Rosda Karya, 1999.

Text 23 Oct 3 notes Jawanan

Disadur dari sokabuma.wordpress.com

Jawanan
Jawanan dalam Bahasa Persia berarti pemuda. Persia yang kita kenal sekarang menjadi negeri Republik Islam Iran dengan diawali revolusi yang dipelopori oleh para pemuda. Bahkan para pemuda itu terhimpun dalam Korps Pengawal Revolusi Islam (Bahasa Persia: Sepah-e Pasdaran-e Enghelab-e Islami sering disingkat Pengawal Revolusi Revolusi Islam. Para pemuda Iran inilah yang menggulingkan tirani regim Syah Iran yang telah menggiring rakyat Iran ke dalam pemisahan kehidupan dengan agama menggunakan pembudayaan westernisasi.
Reza Pahlevi yang telah mengkultuskan dirinya menjadi Syah Iran, menjalankan pemerintahan monarki yang korup yang menindas rakyat Iran dan meyakini ideologi yang menghancurkan kebudayaan Iran akibat merosotnya budi pekerti jajaran pemerintahan di bawahnya. Kemerosotan budi pekerti penguasa membawa dampak kesengsaraan di kalangan rakyat, sehingga menimbulkan tekanan-tekanan sosial yang memicu kesadaran para pemuda sebagai agen perubahan untuk memulai suatu gerakan perubahan. Gejolak sosial yang kian hari kian menghimpit pranata sosial masyarakat Muslim Iran yang telah ditumbuh-besarkan oleh Kebudayaan Islam, makin menggelorakan gelombang demonstrasi besar gerakan pemuda Iran untuk melakukan perubahan dengan cepat.
Dalam kurun waktu dari Januari 1978 dengan Demonstrasi besar pertama, dan ditutup dengan disetujuinya konstitusi teokrasi baru – dimana Khomeini menjadi Pemimpin Tertinggi negara – pada Desember 1979. Sebelumnya, Mohammad Reza pahlevi pergi meninggalkan Iran dan menjalani pengasingan pada Januari 1979 setelah pemogokan dan demonstrasi melumpuhkan negara. Pada 1 Pebruari 1979 Ayatullah Khomeini kembali ke Teheran yang disambut oleh beberapa juta Bangsa Iran.
Kejatuhan terakhir Dinasti Pahlevi segera terjadi setelah 1 Pebruari dimana Angkatan Bersenjata Iran menyatakan dirinya netral setelah gerilyawan dan pasukan pemberontak mengalahkan tentara yang loyal kepada Shah dalam pertempuran jalanan. Iran secara resmi menjadi Republik Islam pada 1 April 1979 ketika sebagian besar Bangsa Iran menyetujuinya melalui referendum nasional.
Revolusi ini memiliki keunikan tersendiri karena mengejutkan seluruh dunia. Revolusi besar ketiga dalam sejarah,” setelah Perancis dan Revolusi Bolshevik. Berbeda dengan berbagai revolusi di dunia, Revolusi Iran tidak disebabkan oleh kekalahan dalam perang, krisis moneter, pemberontakan petani, atau ketidakpuasan militer; menghasilan perubahan yang sangat besar dengan kecepatan tinggi ; mengalahkan sebuah regim, walaupun regim tersebut dilindungi oleh angkatan bersenjata yang dibiayai besar-besaran dan pasukan keamanan dan mengganti monarki kuno dengan ajaran teokrasi yang didasarkan atas Guardianship of the Islamic Jurists (atau velayat-e faqih). Hasilnya adalah sebuah Republik Islam “yang dibimbing oleh ulama berumur 80 tahun yang diasingkan ke luar negeri dari Qom,” sebagaimana seorang cendekiawan menyatakan, “jelas sebuah kejadian yang harus dijelaskan.
Revolusi ini terjadi kepada dua peringkat. Peringkat pertama bermula pada pertengahan 1977 hingga tahun 1979 yang dipimpin oleh pihak liberal, golongan haluan kiri dan kumpulan agama. Kesemua mereka memberontak menentang Shah Iran. Peringkat kedua yang turut dikenali sebagai Revolusi Islam menyaksikan naiknya Ayatollah menjadi pemimpin revolusi.
Sekarang kita menyaksikan kemajuan yang dicapai Iran telah mampu menyejajarkan diri dengan negara super power dan berdiri tegak menantangnya. Bahkan Iran mampu menguasai teknologi alutista yang mampu menandingi kekuatan musuh besarnya- Amerika Serikat. Dalam sebuah film karya Sutradara Joel Gilbert, Farewell Israel: Bush, Iran and the Revolt of Islam, Amerika Serikat digambarkan sebagai great satan yang akan menindas, memeras, mengeksploitasi bumi dan penghuninya hingga menuju kehancuran. Iranlah yang akan menjadi pelopor di antara masyarakat dunia dalam perjuangan perlawanan hitam – putih, Adam dan Iblis, Haq dan Bathil.
Pemerintahan revolusioner Iran gencar melaksanakan ekspor Revolusi ke negara sekitarnya dalam drama panjang kehidupan pertentangan antara Kebenaran melawan Kejahatan yang menjadi ketetapan dalam rangkaian sejarah kehidupan manusia.
Indonesia pada periode penyebaran agama Islam yang mulai masuk sejak abad ke-12 telah “mengimpor” dan menyerap kata-kata bahasa Arab seperti masjid, kalbu, kitab, kursi, selamat, dan kertas, serta kata-kata Persia seperti anggur, cambuk, dewan, saudagar, tamasya, dan tembakau masuk pada periode ini. Proses penyerapan dari bahasa Arab dan Persia terus berlangsung hingga sekarang.
Dalam memperingati Kongres Pemuda 1928, para Jawanan di Indonesia semestinya membuka keran impor seluas-luasnya terhadap komoditi ekspor Iran agar mereka menjadi pelopor perubahan atas keadaan di negerinya yang makin hari makin terpuruk dalam jurang yang memprihatinkan.

 Gua Hira, 30 Oktober 2010.

Quote 20 Oct 12 notes
I may never find all the answer, I may never understand why, I may never prove what I know to be true, but I know that I still have to try
— Tuhan bersama orang yang pemberani
Link 17 Oct (Runtuhnya Simbol Supremasi Hukum RI) Lantas, adakah yang bisa saya banggakan dari negeri ini?»
Text 17 Oct 2 notes Sampai Kapan?

 Jiwamu telah lama bermukim di lembah jemu

Tak pernah puas melahap waktu,

menjilat pusar halus dan leher jenjang mereka

melelehkan emas untuk kau keringkan di dalam dompet sempitmu?

Sampai kapan mau seperti ini?

Sampai kapan kau rela televisi menjadi kiblat putihmu?

merongrong anak istrimu sampai wajahmu pun jadi kotak karenanya

Oh, ataukah kau lebih memilih tak peduli?

Sampai nanti hutan dan perut bumi habis karena keserakahan kekawanmu itu?

Sampai hartamu habis karena udara dijual terlalu mahal?

Ataukah sampai anakmu nanti meringkih ampun karena Sang Maha Murka telah habis sabarnya?

Hidup ini bukanlah perjudian, nona

Terlalu mahal untuk kau jual begitu murah

Birunya laut terlalu dalam untuk kau ukur dengan dangkal otakmu itu

Sekarang dengarkanlah aku, tuan

Kau hanya perlu mengikuti keinginan Sang Maha Murka

angkuhmu tak akan mampu meredam hitamnya api nanti

Mari sama sama kita mendaki makna

Makna nafas yang terurai dari jantungnya

Makna mentari yang hilang dari embun paginya

Makna kenangan yang tumpul dari nostalgianya

dan makna hidup yang luput dari tujuannya

Hidup tak melulu soal cinta kan?

Quote 16 Oct 2 notes
People are afraid of themselves, of their own reality; their feelings most of all. People talk about how great love is, but that’s bullshit. Love hurts. Feelings are disturbing. People are taught that pain is evil and dangerous. How can they deal with love if they’re afraid to feel? Pain is meant to wake us up. People try to hide their pain. But they’re wrong. Pain is something to carry, like a radio. You feel your strength in the experience of pain. It’s all in how you carry it. That’s what matters. Pain is a feeling. Your feelings are a part of you. Your own reality. If you feel ashamed of them, and hide them, you’re letting society destroy your reality. You should stand up for your right to feel your pain.
— Jim Morrison
Text 21 Jul Si Penjelajah Fana (5)

(5)

Jiwamu bermukim dalam jeda rahasia antara kata dan kata
Selengang kerlipan ruang  antara bintang dan bintang

Kehadiranmu ringan dan kokoh laksana selembar bulu gunung
Bertiup dari keluasan ke keluasan sayup

Seluruh jalan berkayuh menuju jalanmu
Yang keemasan dan biru, bak bentangan gelombang Jalan Langit

Di kota ini kau membangunkan hari kedua
Dari tenunan benang ganda: kehidupan dan kematian

Mungkin kota ini hanya muncul sekejapan dari rimbunan kabut
Sebelum kefanaan jatuh bagaikan malam yang jatuh.

Text 21 Jul Si Penjelajah Fana (4)

(4)

Kesendirian yang bening dan megah
Telah tegak di sini sejak  permulaan kala

Seluruh kenangan berpendar bagai lampion-lampion malam
Engkau hanya memandangnya, tanpa tersentuh olehnya.

Ayunan air di antara pepohonan, halus dan hening,
Seperti melodi gerakan tangan dan kaki seorang bayi

Bak puisi yang kau rangkai dari batas-batas bahasa
Atas bawah, bolak balik, hingga membungkus seantero kota

Maka kota menjelma doa yang mekar
Merambati pohon awan

Text 21 Jul Si Penjelajah Fana (3)

(3)

Telah Kau sebrangi jembatan yang melanglang jauh

Melengkung dari dirimu menuju dirimu

 

Kini kau tinggal di sebuah kota yang sepi senyap

Di mana banyaknya pasir yang kau genggam sebanyak pasir yang hambur

 

Bagaikan kapal yang semakin jauh dari tempat berlabuhnya

 

Lubang yang kau dulu jatuh di situ,

kembali kau gali untuk tempat persemayaman renunganmu

 

Ibarat matahari yang silau akan cahayanya sendiri

 

Tak terdengar suara sepikuk kecilpun

Selain nyanyian lampau yang tumbuh pada kerajaan mas kecilmu

 

Kau menerobos masuk menatap cahaya matahari

Hingga pandanganmu merona, membakar memenuhi seluruh ruang tatap

 

 

Di kota ini kau aman dan tersembunyi dari dirimu sendiri

Seperti seekor rajawali yang tak terbang di cakrawala,

Tak juga berlindung dari sapuan senja


Design crafted by Prashanth Kamalakanthan. Powered by Tumblr.