Text 19 May 1 note Hari ini

Hari ini kubiarkan tubuh ini untuk tidak dikotori oleh nikotin dan asap-asap pereda masalah. tidak juga dilalui oleh kafein penghilang cemas. Bukan tidak rindu, hanya terbiasa untuk berbaik budi di lingkungan tempatku dibesarkan, dimana ada wanita yang pernah menyusuiku tinggal.

Hari ini juga tidak luar biasa. hanya ku awali dengan membuka mata ketika matahari sudah gagah naik, melewatkan mentari yang sepertinya malas untuk bertegur sapa denganku. Sejenak kulihat layar kecil tepat di depan tempat tidurku. sebuah kebiasaan yang kulakukan ketika membuka mata bangun dari lelap panjang. belakangan ini tidurku selalu terlalu panjang. sulit rasanya untuk membuka menghadap realita yang begitu penuh terik dan debu. temaram kelabu malam sedang sangat akrab dengan lelah mataku. lalu selanjutnya aku bergegas keluar rumah dengan berbekal sepatu lusuh dan sehelai handuk kecil. berharap udara segar di luar dapat membiusku melupakan hiruk pikuk bosan yang giat menjajah tubuhku. Mengolah fisik yang sudah terlalu karat terbiasa dimanjakan oleh waktu. entah apa yang sudah kulakukan 3 tahun kebelakang, hingga tubuhku terlihat seperti beruang yang siap untuk hibernasi. Setelah kucur keringat kurasa cukup, aku pulang dengan rasa yang masih sama ketika aku berangkat tadi. jenuh dan bosan masih saja belum bisa pergi dari pikiranku. ingin rasanya kau ku ajak untuk berkeliling kota tanpa tujuan, sembari mendengarkan keluhan-keluhan panjangku, menyelami asap asap hebat kemacetan kota ini, dan sesekali kita mencicipi manisnya momen senyuman kita tak tau lagi harus membicarakan apa. tapi apa daya tangan belum sampai. Kegiatan selanjutnya di hari ini kuhiasi dengan kegiatan-kegiatan yang biasanya orang malas lakukan. tak jauh dengan bercumbu panas dengan bantal-bantal di sudut ruangan, beralaskan busa persegi panjang yang menopang pundak yang kurasa berat. berdialog panjang dengan layar monitor besar sembari sesekali memainkan jariku untuk memanjakan mataku mencari informasi yang kurasa tidak  terlalu penting. atau sesekali memenuhi keinginanan perutku yang sering berdebat dengan keinginan mulut yang selalu tak selaras.

ah aku benci keseharianku. masih jauh dari tujuan hidupku. juga tujuan dari manusia seharusnya. semoga masih ada waktu untukku.

Hari ini aku mengingatnya, saat kita bersama mengarungi malam. membicarakan hal yang membuat kita tertawa. sesekali dihiasi dengan keluhan yang kau berikan, namun selalu membuatku senang. memperingatkanku tentang orisinalitas diri sendiri. Ya, menurutku kau begitu orisinil. jauh berbeda denganku yang begitu banyak dihiasi prasangka dan kekotoran hidup. dan bersama dengan ingatanku, kekhawatiranku pun terkadang timbul. kau yang terkadang memberikan perlakuan yang sama kepada mereka, hal yang sama dengan apa yang kau berikan kepadaku. ah, rasa ingin dispesialkan memang selalu ada. dan yang pasti selalu salah. apa hak ku mengatur hidupmu? orangtuamu pun tidak. karena yang kutahu, menjalin rasa itu memang untuk menyakiti. tapi kadang aku menikmati rasanya menjalani tanpa harus tau destinasi.

Photo 19 May 1 note
Photo 19 May
Quote 19 May
Saya tak mau jadi pohon bambu, saya juga tak mau jadi pohon oak yang berani menentang angin. Saya ingin tetap jadi manusia
— Soe hok tun
Quote 19 May 5 notes
Pendidikan tidak hanya kita dapatkan dari kapur dan papan tulis di kelas. Bukalah hatimu, tundukkan kepalamu maka alam dan sekitarnya akan mengajarimu banyak hal. Bahkan rerumputan yang kau injak dapat mengajarimu tentang Daya Juang. Berapa kalipun kau injak, ia tetap bertumbuh.
Text 2 May

I

Kugenggam kau terang

Merengkuh muka

Menggores jiwa

Menelurkan bait-bait syahwat dunia

dari ketiadaan

hingga…

Sepiku takkan berlari

Sendiriku kan tetap berdiri

Duduk berdampingan kau dan aku

Mencengkram budaya, mendobrak penjara

Kita kibarkan bendera kita

Tarik ulur kau dan aku

Kutarik semua ke bumi kembali

Jejaklah ini tanah, bilanglah ini fana

Kau takkan kemana

II

Hei, kau masih saja terpenjara ?

Ingat ini, ingatlah itu

Mari kita buat lelucon malam

Gelapnya terbuat dari kopi

Indahnya terbingkai oleh tawa

Hahaha

Kau masih disini sepi?

Mari kita rengkuh sang malam

dan kau

Kita rebut tahta sang raja

Menang

 

Masih saja sepi…

Text 2 May 4 notes Salahku juga

Aku menyayangimu.

iya, memang salah.

tapi.

Text 2 May 3 notes Bukan cita-cita

Yang aku percaya, untuk setiap nyawa yang dianugerahi raga, masing-masing mempunyai rasa.

Yang tak kupercaya, terlalu banyak pasang mata yang lupa memasang nuraninya dalam-dalam untuk menerima titah Tuannya.

Ada mereka yang tega membunuh waktunya bersama ruang kelas dan lembar nilai.

memburu senyum diantara paragraf-paragraf sempit alfabeta semata.

berharap nilai dapat memberikannya ruang, untuk berlembar Uang.

Ada mereka yang sibuk dengan dahaga gemerlap.

Membius luka diantara libidonya yang meletup letup.

kanan kerat vodka, kiri kursi sang raja.

Tak pernah puas hingga datang kepadanya ketukan lucu sangkakala.

Ada mereka yang asik bermusik di wahana kubah.

Fokus menghitung tasbih yang kancingnya berputar.

tanpa peduli kawan kecilnya meronta-ronta ingin makan.

Mempresepsikan surga seenak udel.

autis!

Ada mereka yang menghabiskan waktunya di tebing terjal berbatu

Menembus semak belukar bertapak dataran tinggi

Berarus melewati jeram-jeram licin

Menari dan bernyayi menentang angkuh sang bumi

Karena di sana dia bertemu dengan dirinya,

meski harus membuat sang dewa bergemuruh amarah

“Biar Bapakku dan Hades memusuhiku,

tapi di sini kan ku rangkai kembali puing-puing hidupku”

Bukit kapur adalah pijakannya

Puncak Gunung menjadi cita-citanya

Air deras mendinginkan panas tubuhnya

dan kematian adalah sahabat terbaiknya

Juga

Ada aku yang tak bosan berputar dalam labirin kamar.

terjebak dalam koma koma tak bertitik,

yang terlalu licik membuat segala pembenaran kehidupan

sembari berharap lirih membangun negeri yang cinta Tuhannya.

yang sedang mengencangkanlayar.

bersiap menjadi nahkoda kapal menembus laut lepas.

Tapi masih takut mati.

Text 28 Mar 1 note Giung

Asap kepul terus mengudara di sela mulut dan hidungku

Read More

Quote 13 Feb 2 notes
Beban di punggung, semangat dijunjung!

Design crafted by Prashanth Kamalakanthan. Powered by Tumblr.